Demikian kesimpulan pria bernama singkat dan njawani ini, SUGIYONO. Lahir di Purworejo 27 tahun lalu sebagai bungsu dari 5 bersaudara, menjadikan “pak Giyon”, demikian ia biasa dipanggil sedikit lebih manja, dibandingkan guru-guru pria di SKM. Tapi jangan salah, Pak Guru alumni Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro Semarang ini memiliki beban dan semangat luar biasa untuk membentuk siswa-siswinya, untuk tidak hanya mencintai ilmu kimia, tetapi juga memiliki karakter terpuji.
Mengajar? “Emmm… tidak pernah saya pikirkan dan inginkan…” jawab pria yang pernah bekerja di laboratorium salah satu perusahaan keramik di Semarang. Kalimantan? Panas? “tidak pernah saya rindukan…, namun ternyata itulah yang Tuhan ijinkan untuk saya alami.” lanjutnya. Bergabung dengan Yayasan MIKA, mengajar sebagai guru Ilmu Kimia di Sekolah Kristen Makedonia sejak 10 Januari 2006, ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Batapa tidak, karena menjadi guru tidak hanya bertanggung jawab memberi pelajaran pada jam belajar mengajar, tetapi lebih dari itu harus kreatif mencari pola-pola mengajar yang menarik sekaligus menjadi teladan bagi siswa, apalagi guru dan siswa tinggal di asrama yang sama lokasinya. Jadi tidak mungkin lagi saya bermanja-manja, bagaimana dengan siswa kalau tetap mempertahankan sikap manja?
Guru pun harus belajar menjadi tangguh, apalagi saya bercita-cita agar siswa yang saya ajar memperoleh pengetahuan yang baik tentang ilmu kimia dan mencintainya, baik pada saat belajar di sekolah, maupun pada masa-masa selanjutnya. Untuk mewujudkan cita-cita itu, saya akan melakukan bagian saya sebaik-baiknya, biarlah Tuhan melakukan bagian-Nya, yang jauh lebih besar dari apa yang bisa dan pernah saya pikirkan dan bayangkan. Mohon terus doakan. (sgn-sw)