Gagas, demikian teman-temannya menyapa remaja berbadan tegap ini. Putra Bapak Riaman dan Ibu Yuliana ini, saat ini duduk di kelas IX (3 SMPK) Makedonia. Sesuai dengan peraturan di SKM, siswa-siswi SMP dan SMA harus tinggal di asrama, maka Gagas pun menjadi penghuni asrama Makedonia.
“Awalnya memang terasa berat berpisah dengan keluarga, tetapi setelah dijalani, ternyata enak juga, karena di asrama saya belajar berdisiplin, baik waktu belajar, tidur dan juga makan.” cerita sulung dari 3 bersaudara kelahiran Semuhut, 1 Februari 1991 ini tenang. Meski belum tahu pasti apa cita-citanya, sejak diterima sebagai siswa SKM pada tahun ajaran 2003/2004, Gagas sudah bertekad untuk belajar giat supaya dapat wujudkan cita-cita pendiri SKM, yaitu: membentuk manusia berilmu tinggi, beriman teguh dan berkarakter terpuji.
Kepada orang tua asuh yang selama ini mendukungnya, gagas ingin sekali bertemu, untuk mengucapkan terima kasih. Karena itu Gagas berharap suatu saat orang tua asuhnya akan berkunjung ke SKM. Seperti murid SKM yang lain, Gagas juga sangat senang dan bangga dapat bersekolah di SKM. Dia merasa beruntung dapat menuntut ilmu di SKM, karena tidak semua anak memiliki kesempatan seperti dia. Bagaimana tidak senang dan bangga, di desa kecil seperti Ngabang ada sebuah sekolah berasrama dan menurutnya memiliki fasilitas belajar yang lengkap: lapangan basket, laboratorium, fasilitas berkesenian yang lengkap dan kurikulum plus Character Building, dan Christian leadership. ”Sungguh saya beruntung”, ujar Gagas bangga…
Hal lain yang mengesankan Gagas adalah sikap para guru di SKM. Menurutnya guru-guru di SKM tidak hanya pandai, tapi juga baik hati dan disiplin. Karena sama-sama tinggal di asrama, kapanpun siswa ada kesulitan, guru siap membantu. Gagas berharap para guru dapat terus menjadi contoh bagi para siswa. Betapa membanggakan jika setiap siswa dan alumni SKM juga mampu menjadi model di lingkungan masing-masing. Semoga…. (wrp)